Go Organik

Sistem pertanian organik merupakan suatu sistem yang berusaha untuk mengembalikan semua jenis bahan organik ke dalam tanah, baik dalam bentuk residu dan limbah pertanaman maupun ternak yang selanjutnya bertujuan memberi makanan pada tanaman.

Filosofi yang melandasi pertanian organik adalah mengembangkan prinsip-prinsip memberI makanan pada tanah dan selanjutnya tanah menyediakan makanan untuk tanaman (feeding the soil that feeds the plants) atau dapat diistilahkan “membangun kesuburan tanah”.

Strategi pertanian organik adalah memindahkan hara secepatnya dari sisa tanaman, kompos dan pupuk kandang menjadi biomassa tanah yang selanjutnya setelah mengalami proses mineralisasi akan menjadi hara dalam larutan tanah. Unsur hara didaur ulang melalui satu atau lebih tahapan bentuk senyawa organik sebelum diserap tanaman. Berbeda dengan pertanian konvensional (an-organik) yang memberikan unsur hara secara cepat dan langsung dalam bentuk padat atau larutan sehingga segera diserap dengan takaran dan waktu pemberian yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, dan seringkali berlebihan dan menimbulkan residu dan dampak negatif bagi ekosistem tanah dan lingkungan. Kegunaan budidaya organik pada dasarnya adalah meniadakan atau membatasi kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan oleh budidaya kimiawi.

Tanaman budidaya dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya sangat ditentukan oleh faktor genetik dan dipengaruhi berbagai faktor eksternal lingkungan tumbuhnya. Faktor genetik merupakan kunci penentu sifat suatu jenis tanaman, sehingga seleksi dan pemilihan benih yang tepat dan sesuai,  serta berkualitas baik merupakan hal mendasar yang sangat penting. Sementara faktor eksternal diantarannya berupa kesesuaian iklim (kelembaban dan suhu udara, angin, curah hujan, intensitas sinar matahari); tinggi lokasi dari permukaan laut (altitude); ketersediaan air; faktor fisika tanah (struktur dan tekstur tanah); faktor kimia tanah (pH tanah, kandungan unsur hara, KTK, salinitas); dan faktor biologis tanah (berbagai jenis mikroorganisme dan organisme lain); serangga dan organisme lain, dan faktor lingkungan lainnya. Sarana produksi dan kultur teknis budidaya yang diterapkan semestinya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi di lingkungan tumbuhnya.

Tanah yang sehat akan mendukung pertumbuhan tanaman yang sehat pula, yang pada akhirnya juga akan memberikan produktivitas tanaman yang optimal. Tanah sehat dan produktif sangat dipengaruhi keragaman dan keseimbangan faktor biotik di dalam tanah. Berbagai jenis mikroorganisme fungsional di dalam tanah merupakan bagian sangat penting sebagai faktor biotik di dalam tanah untuk mempertahankan kondisi tanah yang sehat dan subur, secara aktif dan alami menyediakan unsur-unsur hara, hormon pertumbuhan, dan berbagai senyawa organik yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.

Dalam beberapa dekade, praktek budidaya pertanian kita yang mengedepankan asupan dan input kimiawi berlebih berupa pestisida dan pupuk an-organik, telah mempengaruhi penurunan kualitas kondisi tanah dan lingkungan, terutama kehilangan ragam-jenis biota dan mikroorganisme juga fungsinya untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu lahan-lahan pertanian saat ini sangat membutuhkan asupan pupuk hayati untuk mengembalikan keseimbangan dan keragaman mikroorganisme di dalam tanah sehingga dapat mendukung pertumbuhan tanaman yang sehat dan optimal. Pupuk Hayati Cair BIOLOVE dapat menjadi solusi untuk mengembalikan kesuburan dan kesehatan tanah untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya yang optimal. Pupuk Hayati Cair BIOLOVE mengandung mikroorganisme Azotobacter sp, Azospirillum sp, Rhizobium sp, Bacillus sp, Pseudomonas sp, dan Aspergillus niger.

 

KANDUNGAN DAN MANFAAT PUPUK HAYATI CAIR BIOLOVE

Pupuk Hayati Cair  BIOLOVE mengandung mikroorganisme fungsional yang berkualitas, unsur hara makro maupun mikro yang lengkap, asam-asam amino, hormon pengatur tumbuh tanaman alami, asam humat-fulvat dan berbagai senyawa organik lain.

Bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanah; meningkatkan kesehatan tanaman dan ketahanan tanaman terhadap perubahan lingkungan dan gangguan  patogen hama-penyakit; meningkatkan  pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman secara optimal; meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil tanaman serta menjaga kelestarian lahan; memperpanjang usia produktif tanaman hortikultura; mudah diaplikasikan mulai dari perendaman benih, penyiraman zona perakaran tanaman dan penyemprotan daun atau tajuk tanaman; meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk an-organik dan mengurangi penggunaan pestisida;serta dapat digunakan untuk tanaman pangan, palawija, hortikultura (sayuran dan buah), tanaman perkebunan dan tanaman hias.

BIOLOVE adalah pupuk hayati cair sekaligus nutrisi untuk tanaman dibuat melalui proses ekstraksi dan fermentasi bahan-bahan alami terpilih. Bahan baku utama berasal dari daun segar lidah buaya (Aloevera barbadensis Miller) dan rumput laut (Euchemoid) yang memiliki berbagai keunggulan alami. Pupuk Hayati Cair  BIOLOVE tidak menggunakan tambahan air karena bahan baku aloe vera mengandung lebih dari 95% air, dan berbagai unsur dan senyawa yang secara alami terkandung dalam aloe vera dapat dimanfaatkan untuk memperkaya kandungan nutrisi dan bahan aktif yang terlarut pada produk pupuk hayati cair yang dihasilkan. Kandungan bahan aktif aloin, iso barbaloin, aloe emodin, dalam kulit daun aloevera telah dikenal bersifat anti bakteri patogen, sehingga dapat menunjang untuk meningkatkan ketahanan dan kesehatan tanaman, dan melindungi tanaman dari potensi hama dan penyakit.

 

MANFAAT DAN FUNSI ALOEVERA :

  1. Aloe vera mengandung Mono dan polysacarida (selulosa, glukosa, manosa, aldopentosa) dan lignin.
  2. Mengandung unsur hara N, P, K, Mg, Ca, Unsur mikro (Zn, Fe, Mn, Cu, dll).
  3. Mengandung asam amino, sebagai penyusun protein, pembentuk zat pengatur tumbuh tanaman, mempengaruhi kesehatan tanaman, pertumbuhan dan diferensiasi sel.
  4. Vitamin (B1, B2, B6, C, niacin, kolin, dll), mempercepat pembelahan sel, koenzim berbagai sintesa dan metabolisme fisiologis tanaman, transfer energi.
  5. Enzim, sebagai katalisator berbagai proses metabolisme dan sintesa dalam tubuh tanaman.
  6. Kandungan inositol, mempengaruhi diferensiasi dan pembentukan jaringan.
  7. Kandungan bahan aktif aloin, iso barbaloin, aloe emodin, meningkatkan ketahanan dan kesehatan tanaman, proteksi terhadap patogen hama dan penyakit tanaman.

 

MANFAAT DAN FUNGSI RUMPUT LAUT :

Ekstrak rumput Laut produk mengandung asam amino dan unsur-unsur mikro seperti Cu, Fe, Zn dan Mg yang lebih tinggi dibandingkan tanaman darat. Rumput laut mengandung polisakarida alginat, asam alginat, asam lemak tak jenuh, dan ZPT, seperti auksin, sitokinin, gibberelin.

  1. Merangsang dan meningkatkan pertumbuhan akar.
  2. Merangsang pertumbuhan mikroorganisme dalam tanah dan membantu penyerapan nutrisi oleh perakaran tanaman.
  3. Rumput laut mengandung mineral lengkap, sehingga pengunaan sebagai pupuk turut meningkatkan ketersediaan unsur mikro bagi tanaman.
  4. Rumput laut merupakan agen khelat alami, sehingga dapat menghantarkan penyerapan unsur hara lebih baik..
  5. Memperbaiki struktur tanah dan kapasitas penyimpanan air.
  6. Merangsang tanaman berbunga dan meningkatkan kadar gula dalam buah.
  7. Meningkatkan kemampuan anti-stres tanaman.
  8. Meningkatkan kekebalan tanaman terhadap suhu dingin.
  9. Pupuk rumput laut dapat merangsang tanaman berbunga dan meningkatkan kadar gula buah,meningkatkan kualitas hasil panen menjadi lebih awet dalam penyimpanan.

 

MANFAAT DAN FUNGSI ASAM HUMAT :

Asam humat merupakan nutrisi dan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme fungsional di dalam tanah. Dapat pula. Asam humat membantu menyuburkan dan menggemburkan tanah.

Peranan asam humat bagi tanah:

  1. Asam humat berperan memperbaiki struktur tanah, merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme di dalam tanah,  penyusun tubuh dan sumber energi bagi mikrobia, meningkatkan serapan hara oleh tanaman karena dapat mengikat unsur hara sehingga lebih efisien dapat diserap oleh tanaman.
  2. Meningkatkan aerasi tanah karena bertambahnya pori tanah (porositas) akibat pembentukan agregat dan aerasi tanah penting peranannya bagi pernapasan (respirasi) mikroorganisme tanah dan akar tanaman.
  3. Menggelapkan warna tanah menjadi coklat kehitaman, sehingga meningkatkan penyerapan radiasi sinar matahari yang akan meningkatkan suhu tanah menjadi lebih hangat.
  4. Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah. Asam humat membentuk kompleks dengan unsur mikro sehingga melindungi dari pencucian oleh air hujan. Asam humat dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia (anorganik).
  5. Asam humat mampu mengikat logam berat (membentuk senyawa khelat) kemudian mengendapkannya sehingga mengurangi keracunan tanah.
  6. Meningkatkan pH tanah asam akibat penggunaan pupuk kimia yang terus menerus. Asam humat mengikat Al sebagai senyawa kompleks. Ikatan kompleks yang terjadi antara asam humat dengan Fe dan Al merupakan antisipasi terhadap ikatan yang terjadi antara unsur P dengan Al dan Fe, sehingga unsur P dapat terserap secara maksimal oleh tanaman.
  7. Asam humat dan asam fulvat yang dapat memperbaiki tahap perkecambahan benih (seedling).

 

MANFAAT DAN FUNGSI MIKROORGANISME FUNGSIONAL :

Ilustrasi Mikroorganisme Fungsional

Mikrobia fungsional adalah jenis mikrobia yang dapat berfungsi sebagai agen fermentasi dan sebagai pupuk hayati yang akan bekerja dalam tanah dan membantu pertumbuhan tanaman. Berfungsi menyuburkan tanah, membantu penyediaan unsur hara bagi tanaman dengan menangkap nitrogen dari udara dan pori-pori tanah (fiksasi N), melarutkan fosfat dan mineral lain, dan menyediakan zat pengatur tumbuh, serta sebagai agensia kompetitor mikrobia patogen di dalam tanah dan pada tanaman. Fungi di dalam tanah mampu menyatukan butir tanah menjadi agregat, sedangkan bakteri berfungsi sebagai semen yang menyatukan agregat. Hasilnya adalah tanah yang lebih gembur berstruktur remah dan relatif lebih ringan.

Tanaman mutlak membutuhkan nitrogen untuk pertumbuhannya, tetapi lebih 70% unsur N berupa gas (N2) di udara bebas dan tidak dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tanaman.  Beberapa jenis bakteri mampu melakukan penambatan (fixasi/pengikatan) nitrogen dari udara, baik secara non-simbiosis dengan tanaman (free-living nitrogen-fixing bacteria) maupun simbiosis dengan tanaman (root-nodulating bacteria). Jenis bakteri yang secara non-simbiosis dapat menambat N2 dari udara diantaranya Azotobacter sp, dan Azospirillum sp. Jenis bakteri simbiosis diantaranya bakteri Rhizobium sp, banyak jenis diantaranya bersimbiosis dengan jaringan akar tanaman kacang-kacangan dan membetuk bintil akar. Bakteri penambat N2 di daerah perakaran mampu secara nyata menambat N2, dan mengubahnya menjadi unsur tersedia bagi tanaman.

Bakteri Azospirillum sp dan Azotobacter sp juga dapat menghasilkan fitohormon atau zat perangsang tumbuh alami seperti auksin, sitokinin dan giberelin, asam absisat, asam traumalin dan etilen. Sitokinin berperan dalam dalam mendorong pembelahan sel, meningkatkan jumlah dan ukuran daun, serta menunda penuaan daun, bunga, dan buah. Auksin berfungsi dalam merangsang dan mempercepat pertumbuhan akar, batang dan tunas. Gibberelin berperan dalam proses perkecambahan. Asam absisat memungkinkan tumbuhan untuk menahan kekeringan. Asam traumalin berperan dalam proses penyembuhan luka pada tumbuhan, Sedangkan etilen, berperan dalam kemasakan buah dan biji  serta merangsang pembungaan serempak.

Fosfat adalah salah satu unsur essensial kedua setelah N yang berperan penting bagi dalam fotosintesis dan perkembangan akar. Sebagian besar bentuk fosfat terikat oleh koloid tanah, sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Fosfat di dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tanaman karena dalam bentuk P-terikat. Pada tanah masam fosfat akan bersenyawa dalam bentuk Al-P, Fe-P, sedang pada tanah alkali fosfat akan bersenyawa dengan Ca menjadi Ca-P membentuk senyawa kompleks yang sukar larut menyebabkan pupuk fosfat yang diberikan tidak efisien digunakan oleh tanaman. Pemberian pupuk fosfat ke dalam tanah hanya 15-20% yang dapat diserap oleh tanaman, sisanya akan terjerap diantara koloid tanah dan tinggal sebagai residu di dalam tanah. Beberapa jenis mikroorganisme berupa bakteri, fungi atau actinomycetes mampu melarutkan fosfat yang terikat tersebut menjadi tersedia bagi tanaman. Umumnya jenis mikroorganisme tersebut hidup secara alami di rhizosphere (zona perakaran). Jenis bakteri pelarut fosfat diantaranya Pseudomonas sp, Bacillus sp, sementara jenis fungi diantaranya Aspergillus niger dan Aspergillus sp. Bakteri Bacillus juga mampu bertindak sebagai imunodulator, yang berperan menguatkan sistem kekebalan tanaman dan mencegah serangan patogen penyakit melalui tanah dan dan perakaran. Pemanfaatan biopestisida beragensia Bacillus sp diketahui mampu menekan penyakit layu bakteri pada tanaman kentang dan tomat.

Molekul fosfat dapat dilarutkan oleh mikroorganisme baik secara biologis ataupun kimiawi. Proses kimiawi adalah mekanisme utama dalam pelarutan fosfat di dalam tanah. Mikroorganisme pelarut fosfat mengekskresikan sejumlah asam organik berbobot molekul rendah seperti oksalat, suksinat, tartrat, sitrat, asetat, formiat, propionate, glikolat, glutamate, malat, fumarat. Asam-asam organik tersebut akan bereaksi dengan bahan pengikat fosfat seperti Al3+, Fe3+, Ca2+, atau Mg2+ membentuk khelat organik yang stabil sehingga mampu melepaskan ion fosfat terikat.

Pelarut fosfat secara biologis terjadi karena mikroorganisme tersebut menghasilkan enzim fosfatase dan enzim fitase. Fosfatase diekskresikan oleh akar tanaman dan mikroorganisme, lebih dominan di dihasilkan oleh mikroorganisme. Pada proses mineralisasi bahan organik, senyawa fosfat diuraikan menjadi bentuk tersedia bagi tanaman dengan bantuan enzim fosfatase. Enzim fosfatase memutus fosfat yang terikat oleh senyawa-senyawa organik menjadi bentuk yang tersedia.

Rizobakteria pemacu tumbuh tanaman (RPTT) atau popular disebut plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) adalah kelompok bakteri menguntungkan yang agresif mengkolonisasi rizosphere (lapisan tanah tipis antara 1-2 mm di sekitar zona perakaran). Aktivitas RPTT memberi keuntungan bagi pertumbuhan tanaman, baik langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsung RPTT didasarkan atas kemampuannya menyediakan dan memobilisasi atau memfasilitasi penyerapan berbagai unsur hara dalam tanah serta mensintesis dan mengubah konsentrasi berbagai fitohormon pemacu tumbuh. Sedangkan pengaruh tidak langsung berkaitan dengan kemampuan RPTT menekan aktivitas patogen dengan cara menghasilkan berbagai senyawa atau metabolit seperti antibiotik.

Berbagai jenis bakteri telah diidentifikasi sebagai RPTT, diantaranya dari genus Pseudmonas, Azotobacter, Azospirillum, Acetobacter, Burkholderia, dan Bacillus. Pemanfaatan RPTT sebagai agensia penting dalam sistem produksi pertanian yang ramah lingkungan semakin penting, karena penggunaan RPTT potensial mengurangi ketergantungan pemakaian pestisida kimia sintetis berlebihan, baik dalam penyediaan hara tanaman (biofertilizers) maupun sebagai pengendalian patogen tular tanah (bioprotectans).

Secara umum, fungsi RPTT dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman dibagi dalam tiga katagori, yaitu:

  1. Sebagai pemacu/perangsang pertumbuhan (biostimulants) dengan mensintesis dan mengatur konsentrasi berbagai zat pengatur tumbuh (fitohormon) seperti asam indol asetat (AIA), giberellin, sitokinin, dan etilen dalam lingkungan akar.
  2. Sebagai penyedia hara (biofertilizers) dengan menambat N2 dari udara secara non simbiotik dan melarutkan hara P yang terikat di dalam tanah.
  3. Sebagai pengendali patogen berasal dari tanah dengan cara menghasilkan berbagai senyawa atau metabolit anti patogen seperti β-1,3-glukanase, kitinase, antibiotik, dan sianida.

Organisme perombak bahan organik adalah organisme pengurai nitrogen dan karbon dari bahan-bahan organik. Perombak bahan organik terdiri atas perombak primer dan perombak sekunder. Perombak primer adalah mesofauna perombak bahan organik, seperti colembolla, acarina yang berfungsi meremah-remah bahan organik/serasah menjadi berukuran lebih kecil. Cacing tanah memakan sisa-sisa remah tadi yang lalu dikeluarkan sebagai faeces setelah melalui pencernaan dalam tubuh cacing. Perombak sekunder ialah mikroorganisme perombak bahan organik (bakteri, fungi, dan aktinomisetes) seperti Trichoderma reesei, T. harzianuum, T. koningii, Phanerochaeta crysosporium, Cellulomonas, Pseudomonas, Thermospora, Aspegillus niger, A. terreus, Penicillium, dan Streptomyces. Adanya aktivitas fauna tanah, memudahkan mikroorganisme untuk memanfaatkan bahan organik, sehingga proses mineralisasi berjalan lebih cepat dan penyediaan hara bagi tanaman lebih baik. Menjadikan bahan organik tanah terurai menjadi senyawa organik sederhana yang berfungsi sebagai penukar ion dasar yang menyimpan dan melepaskan nutrient di sekitar tanaman.